Gunung Api Purba Nglanggeran, tak hanya keindahan namun ada banyak keunikan lain

0
91


Gunung Api Purba ini adalah gunung berapi yang aktif puluhan juta yang lalu, sekitar 60 – 70 juta stahun silam dan sekarang gunung ini dinyatakan sudah tidak aktif lagi. Gunung ini berbentuk bongkahan batu andesit raksasa membentang sekitar 800 meter dan setinggi 300 meter ini mulai banyak menarik perhatian para wisatawan. Setelah pengunjung sampai di lokasi, untuk beristirahat sudah disediakan pendopo yang berbentuk joglo.

Panorama wisata yang ditawarkan di pegunungan Nglanggeran ini meliputi Sunrise dan sunset matahari dan terbitnya bulan pada malam hari, jutaan bintang yang tersebar dilangit dapat kita nikmati pada malam hari, panjat tebing atau rock climbing yang menantang, keindahan alam berupa deretan pegunungan dan perkampungan penduduk yang menarik.

Tak jauh dari joglo tersebut anda akan menemukan 3 bangunan gardu pandang yang dapat digunakan untuk mengexplorasi pemandangan alam di gunung ini dari arah ketinggian. Gunung ini ternyata mempunyai beberapa macam gunung lagi di dalamnya yang mempunyai nilai sejarah dan historis yang tinggi.

Selain kaya akan kebudayaan dan sejarah yang sangat dijunjung tinggi, Jogja memiliki kekayaan alam yang sangat beragam dan melimpah, beberapa dari kekayaan alam tersebut memiliki keunikan dan nilai historis tinggi yang menjadikan kekayaan alam tersebut kini menjadi salah satu destinasi wisata favorit dan terbaik di Jogja bahkan di Indonesia, adalah Gunung Api Purba Nglanggeran, jika anda belum pernah mendengarnya anda pasti akan bertanya-tanya mengapa gunung tersebut disebut Gunung Api Purba Nglanggeran. Jika anda berkunjung ke Gunung Api Purba Nglanggeran, anda tidak akan menjumpai bentuk gunung seperti pada umumnya yang berbentuk kerucut dan memiliki kawah, namun Gunung Api Purba Nglanggeran saat ini memiliki bentuk seperti gugusan bebatuan raksasa tinggi menjulang yang telah ditumbuhi beberapa macam flora dan dihuni beberapa macam fauna didalamnya.

Konon Gunung Api Purba Nglanggeran ini dulunya adalah gunung yang berada di dasar lautan, karena adanya suatu fenomena alam tertentu dengan kurun waktu yang sangat lama, area Gunung Api Purba Nglanggeran ini kemudian terangkat ke permukaan dan menjadi daratan jutaan tahun yang lalu. Gunung Api Purba Nglanggeran memiliki puncak yang disebut Gunung Gedhe memiliki ketinggian kurang lebih 700 meter diatas permukaan laut dan keseluruhan area Gunung Api Purba Nglanggeran ini memiliki luas sekitar 48 hektar.

Terdapat suatu kisah atau cerita yang saat ini masih dipercaya oleh warga setempat. Nglanggeran menurut warga setempat berasal dari kata “nglanggar” atau dalam Bahasa Indonesia berarti melanggar. Pada zaman dahulu warga sekitar Gunung Api Purba Nglanggeran mengundang seorang dalang kenamaan untuk acara syukuran berkat panen yang melimpah, namun saat itu terdapat beberapa warga yang ceroboh, saat sang dalang pergi sesaat untuk beristirahat terdapat beberapa warga dengan sengaja memainkan wayang yang dibawa sang dalang, dengan asyiknya mereka bermain wayang sehingga kemudian wayang tersebut ada yang rusak dan ditinggalkan begitu saja. Melihat wayangnya rusak sang dalang pun marah dan mencari siapa yang telah merusak wayangnya, kemudian sang dalang pun murka dan mengutuk beberapa warga setempat menjadi wayang yang lalu dibuang di kawasan Bukit Nglanggeran. Entah berkaitan dengan cerita ini atau tidak, sampai sekarang sebagian masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Api Purba Nglanggeran dijaga oleh makhluk bernama Kyai Ongko Wijoyo dan tokoh pewayangan Punokawan yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Selain itu masih terdapat misteri yang melekat di Gunung Api Purba Nglanggeran, yaitu terdeapat sebuah Kampung Pitu atau Kampung Tujuh yang didalamnya hanya boleh dihuni oleh 7 kepala keluarga. Kepercayaan ini sudah ada sejak dahulu dan dipercaya turun-temurun hingga sekarang, konon jika jumlah kepala keluarga di Kampung Pitu ini lebih dari 7 maka kepala keluarga ke 8 akan menderita penyakit yang berujung kematian, pun jika jumlah kepala keluarga kurang dari 7 maka akan ada wabah penyakit yang akan menyerang seluruh penduduk Kampung Pitu hingga dapat berujung pada kematian. Itulah mengapa Kampung Pitu hanya boleh dihuni oleh 7 kepala keluarga tidak lebih dan tidak kurang, jika terdapat anak dari salah satu kepala keluarga menikah maka ia akan keluar dari Kampung Pitu dan menetap di bawah atau di lereng Gunung Api Purba Nglanggeran.

Untuk menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran anda harus berjalan menyusuri jalan setapak dengan bebatuan yang cukup menantang dan tentu saja dengan tanjakan yang lumayan menguras tenaga. Di Gunung Api Purba Nglanggeran ini anda dapat melakukan berbagai aktivitas terutama aktivitas adventure seperti hiking, camping dan panjat tebing ataupun rock climbing.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.