Rainbow and Cloud, merilis single terbaru mereka berjudul “Kurator Narasi”, secara tajam mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kondisi sosial saat ini melalui musik mereka. Dalam lagu ini, mereka mengkritik fenomena Cancel Culture serta distorsi kebenaran yang sering kali terjadi akibat dari pengaruh opini individu yang kuat. Dirilis pada 29 Februari 2024 di berbagai platform digital musik, karya ini menyoroti pentingnya memilah informasi dengan bijak. Dengan menggunakan nada-nada distorsi yang keras dan menciptakan nuansa musik dari era 80-an hingga 90-an, Rainbow and Cloud berusaha membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang disajikan oleh pihak-pihak tertentu.

Melalui musiknya, Rainbow and Cloud mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kondisi sosial saat ini, di mana kebenaran seringkali terdistorsi oleh kepentingan pihak tertentu. Menghadirkan nada-nada distorsi yang keras, menggambarkan kemarahan dan kekesalan atas situasi ini, menghadirkan aroma musik dari era 80-an hingga 90-an.

Jangan Lupa Baca Juga : Perjalanan Emosional dalam Musik: RAJASINAGA dan Farrel Hilal Rilis Single ‘JULIA’

“Ini adalah cara kami mengatakan ‘Sialan’ pada Cancel Culture, seolah ada pihak yang berhak berperan sebagai kurator atas sebuah prilaku atau pendapat. Dan di level individu, ketika kita hanya mau mendengar kritik atau pendapat yang nyaman untuk didengar, artinya kita dalam masalah. Musik yang terdengar agresif selaras dengan kemarahan kami atas hal tersebut”, ungkap Enzi. Penyambung dari lagu “Pecandu”, lagu ini merupakan sekuel dari lagu “Pecandu”, single yang dirilis pada bulan Agustus lalu sebagai mendongkrak situasi yang terjadi sekarang harus dipertimbangkan menjadi suatu isu yang serius. Pengaplikasian melalui sebuah karya adalah bentuk nyata suara yang semestinya membuka pola pikir masyarakat untuk memilah informasi harus lebih bijak!

Rainbow And Cloud Rilis Kurator Narasi
Rainbow And Cloud Rilis Kurator Narasi

Salah satu hasil terbaik dari kemajuan sosial dalam beberapa dekade terakhir adalah kebebasan berpikir dan berbicara. Namun, fakta kadang-kadang tidak memenuhi harapan. Kritik terhadap suatu kelompok atau individu dari berbagai sudut pandang dan komentar secara faktual seringkali dianggap sebagai celaan oleh pihak yang berpendapat berbeda, yang kemudian diikuti oleh pengikut mereka, berdasarkan analisis informasi yang ada. Bagaimana kita bisa membuat kritik dan pendapat ini lebih nyata dan layak untuk diskusi yang lebih mendalam?

Sebagai dasar dari skeptisisme kontemporer, mereka percaya bahwa setiap kesan negatif yang disebabkan oleh pendapat seseorang seharusnya bersifat subjektif. Sosial media saat ini berfungsi sebagai sumber informasi yang dapat diakses dengan cepat dan jelas. Tidak memahami konten yang lebih penting daripada judul berita utama adalah senjata bagi masyarakat kita. Media sosial telah menjadi alat yang dapat meracuni stigma untuk mengikuti instruksi yang disebarluaskan dan mengganggu aktivitasnya. Media sosial telah berkembang menjadi salah satu tempat utama untuk menyebarkan informasi dan membentuk opini publik saat ini. Namun, pengaruh media sosial membawa tantangan baru dalam hal kontrol narasi dan pengaruh terhadap pandangan masyarakat. Ini menciptakan ruang kontrol baru bagi kelompok dan individu, yang dapat menyebabkan opini subjektif tertutup kebenaran objektif.

Problematika ini berfungsi sebagai katalis utama Rainbow and Cloud, yang diberi nama “Kurator Narasi”. Perseteruan menjadi kian hangat, dan sebuah objek menjadi populer karena berita utama tentangnya muncul terus-menerus sebagai taktik untuk mengatakan apa pun tanpa menyelidiki.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.